TUr8GfW6Tfd5Gpd9GfG6GpG9TY==
Sabda Guru
Update

Bukan Sekadar Maulid, SDN 51 Galung Paara Hadirkan Sholawat Siswa dan Garda Amanah

Ukuran huruf
Print 0
Foto bersama mahasiswa Asistensi Mengajar PGSD Unsulbar, pihak SDN 51 Galung Paara, dan tamu undangan dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. di Kabupaten Majene, Sabtu (10/10/2026). (Foto: Dok/Ist).

SABDA GURU, MAJENE, SULAWESI BARAT – Telur-telur berhias warna-warni tertata bersama hidangan khas Mandar. Lantunan sholawat siswa menambah semarak suasana. Di tengah peringatan Maulid Nabi Muhammad saw., SDN 51 Galung Paara, Kabupaten Majene, menghadirkan sesuatu yang berbeda. Bukan hanya merayakan tradisi, sekolah ini juga meluncurkan gerakan yang mengajak siswa mengambil peran nyata dalam menjaga keamanan dan kenyamanan lingkungan belajar.

Perayaan yang berlangsung pada Sabtu (10/10/2026), pukul 09.00 hingga 12.00 WITA, tersebut merupakan hasil kolaborasi pihak sekolah dan mahasiswa Asistensi Mengajar Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar). Kegiatan ini turut dihadiri Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Majene, sejumlah tamu undangan, serta dosen pembimbing lapangan (DPL), Eli Meivawati, M.Pd.

Kepala SDN 51 Galung Paara, Imran Saidi, M.Pd., membuka kegiatan yang mempertemukan warga sekolah, mahasiswa, dan para undangan dalam suasana kebersamaan. Peringatan Maulid menjadi kesempatan untuk menghubungkan nilai keteladanan Rasulullah dengan kehidupan sehari-hari siswa, sekaligus memperkenalkan kekayaan tradisi lokal yang masih hidup di tengah masyarakat Mandar.

Bagi anak-anak, perayaan ini juga menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan. Nilai keagamaan dan budaya tidak hanya diperkenalkan melalui penjelasan, tetapi juga melalui kegiatan yang dapat mereka lihat, rasakan, dan ikuti secara langsung.

Salah satu momen yang menarik perhatian adalah penampilan grup sholawat siswa. Di balik penampilan tersebut, terdapat peran Agung, ketua mahasiswa Asistensi Mengajar, yang bersama anggota timnya telah mendampingi dan melatih para siswa. Lantunan sholawat menjadi salah satu bagian yang menyemarakkan acara, sekaligus membuka ruang bagi anak-anak untuk menunjukkan hasil latihan dan keberanian tampil di hadapan banyak orang.

Perayaan semakin bermakna dengan peluncuran program sekolah bertajuk Garda Amanah. Program ini dirancang untuk melibatkan siswa secara aktif dalam menjaga kenyamanan dan keamanan lingkungan sekolah. Kehadirannya membawa pesan bahwa nilai keteladanan tidak cukup disampaikan melalui nasihat, tetapi perlu diwujudkan dalam tindakan dan kebiasaan sehari-hari.

Di sisi lain, kekhasan budaya Mandar memberikan warna tersendiri pada perayaan tersebut. Hidangan tradisional telah tertata rapi, mulai dari telur rebus yang dihias dengan aneka warna hingga pulut atau sokkol, olahan beras ketan yang akrab dalam tradisi masyarakat Mandar. Dalam perayaan Maulid di berbagai wilayah Mandar, sajian ini juga kerap dilengkapi buras, ketupat, pisang, kue cucur, dan baje, penganan manis berbahan ketan, kelapa, serta gula merah.

Di antara beragam hidangan tersebut, telur hias menjadi salah satu simbol budaya yang paling menarik perhatian. Dalam tradisi Mandar, telur rebus kerap dibungkus kertas berwarna, kemudian disusun pada rangkaian yang dikenal sebagai tiri’. Rangkaian tersebut secara tradisional menggunakan batang pisang sebagai tempat menancapkan telur dan berbagai hidangan.

Keberadaan telur hias bukan sekadar memperindah perayaan. Tradisi ini memiliki makna filosofis yang diwariskan masyarakat secara turun-temurun. Salah satu penafsiran budaya Mandar memaknai bagian putih dan kuning telur sebagai pengingat bahwa kehidupan memiliki sisi baik dan buruk, suka dan duka, serta pilihan yang perlu disikapi dengan bijaksana.

Telur hias juga berkaitan dengan semangat berbagi. Hidangan yang disiapkan dalam perayaan Maulid mencerminkan rasa syukur sekaligus menjadi sarana mempererat hubungan sosial masyarakat. Makna simbolis tersebut merupakan bagian dari tradisi budaya setempat, bukan ketentuan khusus dalam ajaran agama.

Pulut atau sokkol pun menyimpan pesan kebersamaan. Sifat ketan yang melekat erat kerap dimaknai sebagai lambang persatuan dan ikatan persaudaraan. Melalui sajian tradisional, masyarakat Mandar tidak hanya mempertahankan cita rasa khas daerah, tetapi juga mewariskan nilai gotong royong kepada generasi muda.

Perpaduan sholawat, tradisi kuliner, dan peluncuran Garda Amanah menjadikan peringatan Maulid kali ini lebih dari sekadar kegiatan seremonial. Siswa memperoleh ruang untuk tampil, mengenal identitas budayanya, sekaligus memahami bahwa menjaga lingkungan sekolah merupakan tanggung jawab bersama.

Kolaborasi mahasiswa PGSD Unsulbar dan SDN 51 Galung Paara juga memperlihatkan bagaimana program Asistensi Mengajar dapat memberikan kontribusi melalui kegiatan yang dekat dengan kehidupan siswa. Kehadiran mahasiswa menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan perguruan tinggi dengan sekolah dalam mendukung pendidikan karakter.

Maulid di SDN 51 Galung Paara akhirnya meninggalkan pesan yang melampaui kemeriahan acara. Di balik warna-warni telur hias dan lantunan sholawat, tersimpan upaya merawat tradisi, menumbuhkan karakter, serta mengajak anak-anak menjadi bagian dari perubahan positif di sekolahnya sendiri.


Bukan Sekadar Maulid, SDN 51 Galung Paara Hadirkan Sholawat Siswa dan Garda Amanah
Periksa Juga
Next Post
Tautan berhasil disalin