![]() |
| Dokumentasi Memetri Sendang Dukuh Canden 2025 |
Sabda Guru, Yogyakarta - Tanah longsor masih menjadi salah satu ancaman bencana yang perlu diwaspadai di Daerah Istimewa Yogyakarta, terutama di Kabupaten Kulon Progo. Bagi anak-anak yang tinggal dan bersekolah di wilayah rawan longsor, mengetahui prosedur evakuasi ternyata belum tentu membuat mereka siap bertindak ketika bencana benar-benar terjadi.
Kondisi tersebut menjadi perhatian tim PKM-RSH UNY setelah melakukan observasi dan wawancara di SD Negeri 1 Samigaluh dan SD Negeri Totogan, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo. Kedua sekolah tersebut berada di kawasan perbukitan yang memiliki risiko pergerakan tanah.
Kondisi kerawanan serupa juga terlihat di SD Negeri Madigondo Wetan, yang memiliki lereng di sekitar lingkungan sekolah, riwayat longsor, serta kerusakan infrastruktur yang berkaitan dengan bencana.
Dari pengamatan tersebut, tim menemukan bahwa sebagian siswa masih menunjukkan respons panic-freezing ketika menghadapi ancaman bencana.
Mereka dapat terdiam atau menunggu instruksi tanpa segera mengambil tindakan. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengetahuan mengenai mitigasi saja belum cukup.
Anak juga perlu dibekali kemampuan untuk tetap tenang, mengenali situasi, menentukan langkah, dan bertindak ketika menghadapi keadaan darurat.
Berangkat dari persoalan tersebut, tim PKM-RSH UNY melihat adanya potensi dari kearifan lokal yang telah hidup di tengah masyarakat. Salah satunya adalah tradisi Memetri Sendang, yang merupakan tradisi masyarakat Kulon Progo dalam merawat dan memuliakan sumber mata air yang dilakukan melalui ritual dan gotong royong.
Tradisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan keberadaan sumber mata air, tetapi juga mencerminkan hubungan manusia dengan lingkungan serta kehidupan bersama di masyarakat.
Nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut kemudian digali melalui wawancara dan observasi untuk melihat relevansinya dengan pendidikan mitigasi bencana bagi anak sekolah dasar.
Hasilnya, tim menemukan lima nilai yang memiliki kaitan dengan kemampuan siswa dalam menghadapi bencana, yaitu ilmu titen, gotong royong, kepedulian ekologis, rasa Handarbeni, dan kendali diri.
Kelima nilai tersebut kemudian menjadi dasar dalam menyusun psikoedukasi yang diarahkan pada kemampuan problem-focused coping siswa.
Ilmu titen, misalnya, dapat dikenalkan kepada siswa melalui kebiasaan mengamati perubahan lingkungan dan mengenali tanda-tanda yang berpotensi menunjukkan risiko longsor.
Gotong royong diterapkan melalui latihan menyusun langkah evakuasi dan pembagian peran ketika terjadi keadaan darurat.
Sementara itu, kepedulian ekologis diarahkan pada kebiasaan menjaga lingkungan, mengenali lokasi yang berpotensi berbahaya, serta melaporkan kondisi tersebut kepada guru atau orang dewasa.
Nilai rasa Handarbeni dan kendali diri juga menjadi bagian penting. Rasa memiliki terhadap lingkungan dapat mendorong siswa memahami manfaat dari tindakan keselamatan, sedangkan kendali diri berkaitan dengan kemampuan mengatur respons ketika menghadapi situasi yang menekan.
Keduanya kemudian diterapkan melalui latihan mengikuti instruksi keselamatan, mempraktikkan langkah perlindungan diri, melakukan simulasi evakuasi, dan mengevaluasi kembali respons yang telah dilakukan.
Setelah nilai-nilai tersebut dirumuskan menjadi materi pembelajaran, tim kemudian melaksanakan psikoedukasi kepada siswa pada akhir Juli hingga awal Agustus 2026. Kegiatan dilakukan dalam empat sesi yang mencakup pengenalan risiko bencana, pengenalan nilai budaya lokal, latihan regulasi emosi, dan simulasi kesiapsiagaan.
Dalam rangkaian tersebut, siswa tidak hanya diajak memahami risiko tanah longsor, tetapi juga berlatih mengendalikan respons dan menentukan tindakan yang perlu dilakukan ketika menghadapi keadaan darurat.
![]() |
Usai pelaksanaan psikoedukasi, tim PKM-RSH UNY kini sedang dalam proses pengolahan data kuantitatif untuk melihat tingkat perubahan problem-focused coping siswa sebelum dan setelah mengikuti rangkaian kegiatan.
Hasil pengolahan data tersebut akan menjadi bagian penting untuk melihat sejauh mana psikoedukasi berbasis kearifan lokal Memetri Sendang berkaitan dengan kemampuan siswa dalam menghadapi situasi kebencanaan.
Penelitian ini melibatkan mahasiswa dari beberapa bidang keilmuan. Tim diketuai oleh Nurma Tasya Ajeng dari Pendidikan Guru Sekolah Dasar, dengan anggota Dwi Nurmaylisa dari Psikologi, Hani Suhartini dari Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Keisya Kurnia Putri dari Pendidikan IPA, dan Syahda Nofa Sabrina dari Pendidikan Guru Sekolah Dasar.
Kolaborasi tersebut memadukan perspektif pendidikan dasar, psikologi, dan pendidikan IPA dalam mengkaji pendekatan mitigasi bencana berbasi kearifan lokal bagi siswa sekolah dasar.
Melalui penelitian ini, tim PKM-RSH UNY berharap nilai-nilai yang terdapat dalam Memetri Sendang dapat menjadi bagian dari pembelajaran mitigasi bencana yang lebih dekat dengan kehidupan siswa.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat diterapkan terutama di sekolah yang berada di wilayah rawan longsor.
Dengan demikian, Memetri Sendang tidak hanya dipandang sebagai tradisi yang perlu dilestarikan. Nilai-nilai di dalamnya juga dapat menjadi bagian dari pembelajaran yang membantu anak mengenali lingkungan, menjaga alam, mengendalikan diri, mengambil keputusan, dan bertindak ketika menghadapi bencana.


