
M. Zaki, Mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam, Institut Agama Islam Darussalam Martapura.
Sabda Guru, Opini - Keluarga merupakan madrasah pertama bagi setiap manusia. Di dalam keluargalah karakter dibentuk, nilai-nilai moral ditanamkan, dan keimanan dipelihara. Islam memandang keluarga bukan sekadar tempat berbagi nafkah dan kasih sayang, melainkan juga sebagai sarana bersama untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Karena itu, keharmonisan keluarga menjadi salah satu tujuan utama dalam kehidupan rumah tangga.
Namun, di era digital saat ini, keluarga menghadapi tantangan yang tidak ringan. Media sosial setiap hari menampilkan gambaran rumah tangga yang tampak sempurna: pasangan yang romantis, kehidupan yang serba berkecukupan, dan kebahagiaan yang seolah tanpa cela. Tanpa disadari, tayangan semacam ini dapat membentuk standar yang tidak realistis dalam kehidupan pernikahan.
Ketika realitas rumah tangga tidak seindah yang terlihat di layar gawai, sebagian pasangan mulai merasa kurang bersyukur, mudah kecewa, dan lebih rentan terhadap konflik. Akibatnya, ukuran keharmonisan keluarga sering kali bergeser dari nilai-nilai spiritual menuju penilaian yang bersifat material dan pencitraan di hadapan manusia.
Padahal, kebahagiaan keluarga yang sejati tidak lahir dari kemewahan, pujian orang lain, atau banyaknya momen romantis yang dibagikan di media sosial. Kebahagiaan yang hakiki tumbuh dari hati yang dekat kepada Allah, dari rumah yang dipenuhi ibadah, dan dari keluarga yang berjalan bersama menuju ridha-Nya.
Salah satu amalan yang memiliki pengaruh besar dalam membangun keharmonisan keluarga adalah salat berjamaah. Salat berjamaah bukan hanya sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt., tetapi juga menjadi momen kebersamaan yang mempererat hubungan antaranggota keluarga. Dalam salat berjamaah terdapat pendidikan tentang disiplin, kepemimpinan, kebersamaan, serta rasa saling menghormati.
Ketika seluruh anggota keluarga berdiri dalam satu saf, menghadap kiblat yang sama, membaca doa yang sama, dan bersujud kepada Tuhan yang sama, saat itulah hati-hati mereka dipersatukan. Perbedaan pendapat, kelelahan, dan berbagai persoalan hidup seakan mereda di hadapan kebesaran Allah Swt.
Dalam sebuah kajian, seorang pendakwah perempuan yang dikenal luas dengan ceramahnya yang penuh hikmah dan menyejukkan hati, Ustazah Halimah, pernah menceritakan sebuah pengalaman yang sangat menarik. Beliau bercerita bahwa ketika guru beliau, Hubabah Maryam, datang berdakwah ke Indonesia, banyak jamaah yang menemui beliau setelah kajian untuk mengadukan berbagai masalah rumah tangga yang mereka hadapi.
Setelah mendengarkan dengan penuh perhatian, Hubabah Maryam hanya mengajukan satu pertanyaan sederhana:
"Apakah kalian salat berjamaah di rumah?"
Ternyata hampir seluruhnya menjawab bahwa mereka tidak pernah melaksanakan salat berjamaah bersama keluarga.
Ustazah Halimah kemudian merasa penasaran. Beliau bertanya kepada gurunya, mengapa pertanyaan itu yang diajukan, dan apa hubungannya dengan berbagai konflik keluarga yang mereka ceritakan.
Hubabah Maryam menjawab dengan mengingatkan sebuah hadis Rasulullah saw.:
سَوُّوا صُفُوفَكُمْ وَلَا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ
"Luruskan dan rapatkan saf-saf kalian, janganlah kalian berselisih sehingga hati-hati kalian menjadi berselisih." (HR. Muslim)
Kemudian beliau berkata, "Jika saf yang renggang dalam salat berjamaah saja dapat menyebabkan renggangnya hati, lalu bagaimana dengan keluarga yang sama sekali tidak pernah salat berjamaah?"
Kalimat tersebut begitu sederhana, tetapi mengandung makna yang sangat dalam.
Ketika kami mempelajari psikologi keluarga, saya pernah menanyakan hal itu kepada salah seorang dosen kami, Ibu Anida Maghfirah, M. Psi, mengenai hubungan antara salat berjamaah dan keharmonisan keluarga. Beliau menjelaskan bahwa dari sudut pandang psikologi keluarga, salat berjamaah dapat berfungsi sebagai terapi psikospiritual yang memperkuat ikatan emosional, mengurangi tingkat stres, serta membangun fondasi nilai yang kokoh dalam kehidupan rumah tangga.
Salat berjamaah menciptakan quality time yang sangat berharga. Tanpa banyak kata, anggota keluarga belajar menyelaraskan ritme emosi mereka. Kebersamaan dalam ibadah menghadirkan rasa aman, nyaman, dan saling percaya.
Selain itu, posisi sebagai imam dan makmum juga menjadi latihan untuk mengelola ego. Menjadi makmum mengajarkan kesabaran dan penghormatan kepada pemimpin, sementara menjadi imam melatih tanggung jawab dan kepedulian terhadap orang lain. Nilai-nilai ini sangat penting dalam menyelesaikan berbagai persoalan rumah tangga.
Doa yang dipanjatkan bersama setelah salat pun menjadi bentuk dukungan emosional yang luar biasa. Saat suami, istri, anak, atau anggota keluarga lainnya mengamini doa yang sama, mereka sedang menyatukan harapan dan menyerahkan berbagai persoalan hidup kepada Allah Swt.
Tidak mengherankan jika suasana rumah sering kali terasa lebih sejuk setelah salat berjamaah. Ketika sebelumnya terjadi kesalahpahaman atau ketegangan, salat berjamaah menjadi jeda yang menenangkan. Ibarat obat penurun panas bagi tubuh yang demam, salat berjamaah menjadi penawar bagi hati yang sedang memanas.
Semakin sering seseorang beribadah bersama orang yang sedang memiliki masalah dengannya, semakin besar peluang masalah itu mencair dan menemukan jalan penyelesaian. Sebab, sulit rasanya mempertahankan amarah ketika baru saja berdiri, rukuk, dan sujud bersama di hadapan Allah Swt.
Sebelum menikah guru kami, Guru Annur Hidayatullah (Pimpinan Pondok Pesantren Muraatul Lughah) sering berpesan bahwa salah satu tujuan pernikahan adalah agar salat berjamaah semakin terjaga. Jika suatu hari kita terlambat mendapatkan jamaah di masjid atau mushalla, maka pasanganlah yang dapat membantu kita memperoleh keutamaan salat berjamaah.
Nasihat itu perlahan saya praktikkan dalam kehidupan rumah tangga. Tidak jarang setelah pulang dari pekerjaan atau kuliah, saya mendapati jamaah di masjid telah selesai. Dalam keadaan seperti itu, saya sering mengirim pesan kepada istri:
"Sayang, tunggu ya, saya belum salat."
Istri memahami maksud saya. Ia tahu bahwa saya ingin melaksanakan salat berjamaah bersamanya.
Kadang-kadang saya tiba di rumah dan mendapati ia sudah selesai salat. Saya pun berkata sambil tersenyum:
"Temani saya salat berjamaah, ya."
Dan hampir selalu ia mengiyakan.
Bagi saya, itu adalah salah satu anugerah terbesar dalam pernikahan: memiliki pasangan yang membantu dan menemani dalam ketaatan kepada Allah. Sebaliknya, ketika saya sudah lebih dahulu salat sementara istri belum, saya pun berusaha menemaninya sholat berjamaah.
Di rumah, kami saling menunggu untuk salat berjamaah dan itu sudah menjadi kebiasaan. Terkadang hanya beberapa menit, terkadang lebih lama. Namun, kami berusaha menjadikan salat berjamaah sebagai prioritas bersama.
Setiap kali waktu salat tiba, saya biasanya memanggil seluruh penghuni rumah:
"Salat... salat..."
Dari ruang belakang hingga ruang tamu, panggilan itu menjadi semacam pengumuman kecil yang penuh kehangatan.
Ada yang menjawab, "Tunggu sebentar, saya mau wudu."
Ada pula yang berkata, "Tunggu, saya mau mandi dulu."
Lalu kami menunggu hingga semuanya siap dan berkumpul di musala kecil yang ada di rumah.
Alhamdulillah, kami hidup bersama dalam suasana kekeluargaan yang hangat. Ada ibu, mertua, adik, dan ipar. Kebersamaan dalam salat berjamaah menjadi salah satu sebab yang membuat hubungan kami terasa dekat dan penuh kasih sayang.
Bahkan pernah suatu ketika saya bangun subuh agak terlambat. Jamaah di masjid sudah selesai. Saat memasuki ruang salat, saya terkejut melihat seluruh anggota keluarga masih menunggu. Tidak seorang pun memulai salat terlebih dahulu karena mereka ingin melaksanakannya secara berjamaah.
Momen sederhana seperti itu meninggalkan kesan yang sangat mendalam. Saya merasa bahwa rumah bukan sekadar tempat pulang, tetapi tempat di mana setiap anggota keluarga saling membantu menuju surga.
Dari berbagai pengalaman tersebut, kita dapat mengambil pelajaran bahwa keharmonisan keluarga tidak selalu dimulai dari hal-hal besar. Terkadang ia berawal dari langkah sederhana: berdiri bersama dalam satu saf, saling menunggu untuk salat, saling mengingatkan waktu ibadah, dan bersama-sama menghadap Allah Swt.
Karena itu, jika kita mencari rahasia keluarga yang harmonis, mungkin jawabannya tidak terlalu jauh. Ia ada di dalam rumah kita sendiri, di antara suara azan yang berkumandang dan sajadah yang terbentang.
Mulailah dengan salat berjamaah.
Sebab ketika hubungan dengan Allah diperbaiki, sering kali hubungan antaranggota keluarga ikut diperbaiki oleh-Nya.
Semoga Allah menjadikan rumah-rumah kita sebagai keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah, serta senantiasa dipenuhi keberkahan hingga akhir hayat. Aamiin.
Penulis : M. Zaki, Mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam, Institut Agama Islam Darussalam Martapura.