TUr8GfW6Tfd5Gpd9GfG6GpG9TY==
Sabda Guru
Update

Mencari Makna di Tengah Riuh Digital: Jalan yang Dipilih Muzzlem

Ukuran huruf
Print 0
Ilustrasi - (Foto: Dok/Ist).

Sabdaguru - Platform media Islami Muzzlem menolak logika viralitas yang mendominasi ruang digital. Di tengah arus algoritma yang mengutamakan emosi dan sensasi, Founder Muzzlem, Wempy Dyocta Koto, justru memilih membangun ekosistem konten berbasis kedalaman, ketenangan, dan tanggung jawab intelektual.

“Algoritma tidak selalu mengangkat apa yang paling bijak atau paling bermanfaat, tetapi sering kali apa yang paling memancing emosi,” ujar Wempy.

Ia menilai, kemarahan, konflik, dan polarisasi telah menjadi komoditas utama dalam ekonomi perhatian digital saat ini. Dari kegelisahan itu, Muzzlem tidak ingin sekadar menjadi platform media Islami biasa, melainkan ruang alternatif yang menghadirkan Islam secara lebih utuh.

Menurut Wempy, representasi Islam di media sosial selama ini terjebak pada dua kutub ekstrem: terlalu dangkal atau terlalu keras. “Muzzlem ingin keluar dari dua ekstrem tersebut. Kami ingin menghadirkan Islam dengan pendekatan yang tenang namun kuat. Modern namun berakar.”

Strategi distribusi Muzzlem saat ini tetap memanfaatkan platform besar seperti YouTube, Instagram, dan TikTok. Namun, pendekatan yang diambil tidak berorientasi pada angka semata. Media sosial diposisikan sebagai pintu masuk perhatian, bukan tujuan akhir.

“Tantangan sebenarnya adalah bagaimana mengubah perhatian singkat menjadi hubungan jangka panjang yang memiliki makna,” kata Wempy.


Dalam jangka panjang, ia membuka kemungkinan membangun platform independen. Ketergantungan pada algoritma, menurutnya, membuat kreator berada di “tanah sewa” yang rentan terhadap perubahan kebijakan.

“Teknologi tanpa nilai hanya akan menjadi infrastruktur kosong,” ujarnya.

Di sisi konten, Muzzlem menaruh perhatian serius pada kredibilitas. Wempy mengkritik kecenderungan media digital yang lebih mementingkan kecepatan daripada akurasi, terutama dalam isu keagamaan.

“Muzzlem sangat menekankan prinsip intellectual responsibility.”

Platform ini juga menegaskan tidak ingin menggantikan otoritas keilmuan Islam. Muzzlem memosisikan diri sebagai jembatan antara tradisi ilmu dengan generasi digital.

“Kami tidak ingin membangun budaya instan dalam memahami agama,” kata Wempy.

Dalam lanskap digital yang penuh polarisasi, Muzzlem memilih fokus non-geopolitik. “Kami ingin menghadirkan Islam yang menghadirkan ketenangan di tengah dunia yang semakin bising.”

Mencari Makna di Tengah Riuh Digital: Jalan yang Dipilih Muzzlem
Periksa Juga
Next Post
Tautan berhasil disalin