
Di Tengah Kekhawatiran tentang Pengaruh Gadget dan Lingkungan Pergaulan, Pilihan Pendidikan Berasrama Kembali Mendapat Perhatian Serius
Sabda Guru, Tangerang Selatan, 2026 — Ada sebuah kekhawatiran yang diam-diam menghantui banyak orang tua Indonesia, terlepas dari latar belakang sosial dan ekonomi mereka: lingkungan pergaulan anak saat memasuki usia remaja. Ketika anak memasuki jenjang SMP, pengaruh teman sebaya dan paparan konten digital mulai mengambil porsi yang lebih besar dari pengaruh orang tua. Bagi keluarga yang ingin memastikan nilai-nilai Islam tertanam kuat justru di masa-masa paling kritis pembentukan karakter ini, pilihan sistem pendidikan menjadi keputusan yang tidak ringan.
Tren yang terlihat dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan meningkatnya minat orang tua terhadap sekolah Islam berasrama — bukan semata karena ingin "menitipkan" anak, tetapi justru sebaliknya: karena ingin memastikan setiap jam dalam hari anak mereka diisi dengan lingkungan, rutinitas, dan nilai-nilai yang sejalan dengan apa yang ingin mereka tanamkan di rumah. Paradoksnya, banyak orang tua justru merasa lebih "hadir" dalam pembentukan karakter anak ketika anak mereka berada di lingkungan boarding yang tepat, dibandingkan ketika anak di rumah namun waktunya banyak tersita oleh layar gawai.
Apa yang Membedakan Boarding School Islam yang Baik?
Pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan satu ukuran. Namun ada beberapa indikator yang konsisten ditemukan di lembaga-lembaga pendidikan Islam berasrama yang menghasilkan lulusan berkarakter kuat. Pertama, kejelasan manhaj atau metode pendidikan agama yang digunakan — apakah berbasis Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan pemahaman yang sahih, bukan campuran nilai yang tidak jelas pondasinya. Kedua, kualifikasi dan keshalihan para pengajar, yang di lingkungan boarding berperan jauh lebih besar dari sekadar fasilitator akademis — mereka adalah teladan hidup yang berinteraksi langsung dengan santri setiap hari. Ketiga, desain kurikulum yang tidak memisahkan antara pendidikan diniyah dan pendidikan umum, melainkan mengintegrasikan keduanya dalam satu visi terpadu.
Faktor keempat yang sering diabaikan namun sangat penting adalah jaringan ta'awun atau kemitraan kelembagaan. Lembaga yang berafiliasi dengan ulama dan organisasi dakwah yang kredibel memiliki fondasi keilmuan yang lebih terjamin dan proses kontrol kualitas pengajaran yang lebih ketat.
Al Itsar Islamic School: Ketika Pendidikan Berbasis PKBM Bertemu Kurikulum Qur'ani
Di Pamulang, Tangerang Selatan, sebuah sekolah Islam berasrama bernama Al Itsar Islamic School menyelenggarakan pendidikan SMP dan SMA dengan pendekatan yang cukup khas. Program Kesetaraan Berbasis Komunitas Masyarakat (PKBM) yang mereka gunakan memberikan fleksibilitas kurikulum yang tidak tersedia di sistem persekolahan formal konvensional, sehingga alokasi waktu untuk pendidikan diniyah, tahfidz, dan pembentukan karakter Islami bisa jauh lebih besar tanpa mengorbankan standar akademik yang diakui secara nasional.
Bahasa pengantar Arab dan Inggris diterapkan bukan sekadar sebagai nilai tambah, tetapi sebagai alat untuk membuka akses langsung kepada sumber-sumber ilmu keislaman dalam bahasa aslinya — sesuatu yang menjadi bekal jangka panjang yang jarang bisa diperoleh di sekolah reguler. Kurikulum diniyah mencakup tahsin dan tahfidz Al-Qur'an, mata pelajaran keislaman, serta pemahaman yang merujuk kepada Al-Qur'an, As-Sunnah, dan pemahaman para Sahabat.
Yang menarik, lembaga ini menjalin kemitraan (ta'awun) dengan Multaqqa Du'at Indonesia (MDI) yang dipimpin oleh Ustadz DR. Syafiq Riza Basalamah, Lc., MA. — kemitraan yang memberikan jaminan kualitas keilmuan dan jaringan dakwah yang tidak dimiliki oleh sekolah Islam kebanyakan.
"Kami ingin anak-anak di sini bukan hanya hafal Al-Qur'an, tetapi paham apa yang mereka hafal. Dan kami ingin mereka keluar dari sini dengan akhlak yang mencerminkan pemahaman itu — bukan sekadar gelar atau sertifikat."
— Sabina Miza N. M, Koordinator Guru Boarding
Kegiatan ekstrakurikuler yang ditawarkan mencakup spektrum yang luas dan sengaja diarahkan untuk mempersiapkan santri menghadapi tantangan dunia nyata: English Club, Arabic Club, Business Club, Digital Marketing Club, memanah, tata boga, menjahit, berenang, hingga pelatihan bekam sunnah dan pelatihan janaiz. Kombinasi ini menunjukkan visi pendidikan yang utuh — mencetak generasi yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga mandiri dan terampil secara praktis.
Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Gelombang 3 untuk tahun pelajaran 2026/2027 saat ini sedang berjalan, dengan pendaftaran hingga 30 April 2026. Kuota terbatas. Informasi lengkap dan formulir pendaftaran tersedia di www.alitsar.sch.id atau melalui kontak di 0895-3069-4319.