![]() |
| kolaborasi strategis dengan Yayasan Santri Digital Indonesia, Kementerian Agama menyelenggarakan workshop Madrasah Go Digital. (Foto: Dok/Ist). |
Sabdaguru, Tangerang Selatan — Kementerian Agama Republik Indonesia terus menunjukkan komitmennya dalam menyiapkan madrasah menghadapi tantangan zaman. Melalui kolaborasi strategis dengan Yayasan Santri Digital Indonesia, Kementerian Agama menyelenggarakan workshop Madrasah Go Digital: Guru Madrasah Berdaya Digital, Mendidik dengan Cinta di Era Teknologi, yang berlangsung di Aula Kecamatan Ciputat, Tangerang Selatan, Selasa (30/12/2025).
Kegiatan yang dilaksanakan pada pukul 15.30 hingga 18.30 WIB ini menjadi bagian dari langkah konkret Kementerian Agama dalam mengakselerasi transformasi digital madrasah. Guru dan calon guru madrasah didorong untuk tidak hanya melek teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkan ruang digital secara cerdas, etis, dan bernilai, sejalan dengan spirit pendidikan Islam yang menekankan kasih sayang, keteladanan, dan kemanusiaan.
Workshop ini dirancang sebagai ruang penguatan literasi digital pendidik madrasah, sekaligus forum refleksi atas tantangan besar dunia pendidikan di tengah derasnya arus teknologi global. Perkembangan teknologi yang semakin cepat, termasuk arah dunia menuju teknologi quantum digital, menuntut percepatan adaptasi tanpa mengabaikan pondasi iman dan akhlak peserta didik.
Peserta kegiatan berasal dari berbagai unsur pendidikan, mulai dari guru madrasah, calon guru madrasah, pengelola madrasah, mahasiswa PPL, hingga organisasi profesi guru. Mereka dibekali materi pengenalan teknologi digital untuk pendidikan madrasah, pemanfaatan aplikasi digital dalam pembelajaran, strategi pembelajaran daring dan hybrid, serta pengembangan konten digital kreatif yang kontekstual dan relevan dengan karakter peserta didik madrasah.
Sejumlah narasumber hadir memberikan perspektif dan praktik terbaik. Ali Mudasir, M.Pd., Gr. menyampaikan pentingnya penguatan peran guru madrasah di era digital, terutama dalam membangun ketahanan iman, kompas batin, dan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Ia menyoroti tantangan serius berupa potensi penyebaran paham radikal melalui platform digital dan game online, yang menuntut kehadiran guru sebagai pembimbing nilai dan penjaga nalar generasi muda.
Ahmad Rifki Fuada, Wakil Kepala Madrasah Al Asybal Islamic School, memaparkan praktik pemanfaatan aplikasi digital untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran madrasah. Ia menekankan bahwa teknologi, apabila dikelola dengan tepat, dapat menjadi sarana kolaborasi, kreativitas, dan penguatan kualitas pembelajaran.
Sementara itu, Nur Alifudin, Guru Madrasah Pengajar Tahfidz, menekankan pentingnya keseimbangan antara inovasi digital dan pembentukan karakter spiritual. Menurutnya, transformasi digital madrasah harus tetap berpijak pada nilai keteladanan dan pembinaan akhlak, agar teknologi menjadi sarana penguat iman, bukan sebaliknya.
Adapun M. Berryl Choliq Arrohman mengulas peran generasi muda dan ekosistem digital dalam mendorong madrasah agar lebih adaptif dan berdaya saing. Ia menyoroti pentingnya kreativitas konten, literasi media, serta kolaborasi lintas generasi dalam membangun wajah baru madrasah di ruang digital.
Diskusi berlangsung dinamis dengan dipandu oleh M. Riyadh Fadild, penggiat pendidikan, yang mengarahkan dialog agar tetap aplikatif dan relevan dengan kebutuhan peserta di lapangan.
Melalui kolaborasi ini, Kementerian Agama Republik Indonesia
bersama Yayasan Santri Digital Indonesia berharap workshop Madrasah Go Digital
menjadi langkah strategis dalam memperkuat kualitas pendidikan madrasah yang
adaptif terhadap perkembangan teknologi, namun tetap berakar kuat pada
nilai-nilai spiritual, etika, dan kemanusiaan sebagai fondasi utama pendidikan
Islam.
